Paris… Seperti biasa, kota ini selalu terlihat menawan. Elegant…
Manis… Romantis.. Sudah jam 9 malam, namun jalanan masih terlihat ramai
dengan turis yang berlalu lalang. Rela berdesak-desakkan hanya untuk
mengamati keindahan Menara Eiffel di malam hari. Tak peduli pada
dinginnya malam pra-natal.
Natal… Ah, ya. Seminggu lagi akan ada perayaan Natal besar-besaran di
depan Menara Eiffel. Pemerintah akan membuat panggung super besar dengan
penampilan Natal spektakuler sepanjang tahun ini. ¬Bodo amat, aku tidak
tertarik. Bagiku, hari Natal sama seperti hari lain. Datar. Tak ada
istimewanya. Tapi, mengapa orang-orang begitu antusias menyambut Natal?
Mereka bilang natal adalah hari yang indah, penuh keceriaan,
kegembiraan, cinta.. Apalagi jika berkumpul dengan keluarga.
Aku tak mengerti.. Tak akan pernah mengerti karena aku sendiri tak
pernah merayakan Natal. Ibuku sudah meninggal sedangkan ayahku.. Cih,
boro-boro merayakan Natal dengannya, mengobrol saja kami sangat jarang.
Beliau lebih sering menghabiskan waktu dengan alkohol dan pulang larut
malam. Beliau tak pernah bertanya tentang apa yang aku rasakan, aku
pikirkan. Aku.. kesepian.
Sampai akhirnya, setelah lulus SMA, aku memutuskan untuk pergi dari
rumah. Melakukan apa yang aku inginkan dengan uang hasil jerih payahku
bekerja paruh waktu. Sudah cukup aku merasakan kesendirian ini. Sudah
cukup. Setelahnya, aku tak pernah pulang ke rumah.
Sama sekali..
***
Menikmati sepotong kue ditambah secangkir teh hangat di pagi hari
yang dingin. Beginilah caraku memulai cuti natal yang diberikan
perusahaan padaku. Ah, sudah lama aku tak sesantai ini. Ketika aku
sedang menikmati kedamaian di pagi hari ini, telepon apartemenku
berbunyi. Terpaksa, aku berjalan dengan langkah gontai untuk mengangkat
telepon.
“Halo?” kataku dengan suara berat, malas.
“Halo, Tn. Takayoshi. Saya resepsionis apartement. Ingin mengkonfirmasi
ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Namanya, Shena. Apa benar
anda mengenalnya?”
Beberapa detik kemudian, aku terdiam. Berpikir lama sekali. Mana pernah aku mempunyai kenalan bernama Shena?
“Siapa dia? Aku tidak mengenalnya.”
“Anda sudah yakin? Tidak mengenal Shena?”
Sekali lagi, aku berusaha mencari nama ‘Shena’ di dalam memori otakku
sampai terbesit sesosok anak perempuan kecil yang sedang berusaha
menghiburku sampai membuatku tertawa lepas. Lepas sekali. Dia.. sahabat
masa kecilku!
“Ah! Aku tahu.. Aku mengenalnya. Suruh dia tunggu disana. Biar aku yang
jemput dia disana.” Sahutku mengakhiri percakapan dan segera berganti
pakaian.
Shena.. Lama kita tidak bertemu. Aku merindukannya. Namun, aku tak punya
kesempatan untuk mencari kabar tentangnya. Aku tak percaya. Dia
berhasil menemukanku dari sekian banyaknya penduduk imigran di Paris.
Tak sabar, aku keluar lift dengan tergesa-gesa dan menemukan sosok
perempuan berambut panjang sepunggung, berkulit putih, tinggi, cantik.
Dia menyambutku dengan lambaian tangan dan seringaian yang lebar. Oh..
dia masih sama seperti dulu.
“Shena..” kataku dengan mata yang berbinar-binar. Sudah lama aku
merindukan pertemuan seperti ini. “Bagaimana kamu bisa menemuiku
disini?”
“Mmm.. Ada deh. Nggak susah kok mencari imigran dari Jepang tapi bertampang bule seperti kamu, Yoshino-Kun.”
Yoshino-kun. Sudah lama aku tak dipanggil dengan sebutan Jepang itu.
“Bagaimana kalau kamu aku ajak makan di luar? Shena-Can.” Kataku nyengir.
Tak perlu menunggu lama, dia langsung menganggukkan kepalanya. “Sekalian. Ada yang perlu aku bicarakan.”
***
Menanyakan kabarku?
Hhh.. Hal mustahil. Dia tak mungkin menanyakan kabarku, dia tak mungkin
memikirkanku apalagi mengharapkan aku kembali ke rumah bersamanya. Malah
kalau bisa, aku tidak usah pulang saja. Ayahku… Kurasa sekarang ini dia
membenciku. Sangat…
Aku tertawa kecut mendengar perkataan Shena yang kuragukan kebenarannya,
“Selera humormu tinggi juga ya,” kilahku sembari menenggak secangkir
vanilla latte yang kupesan.
Tegas. Shena menggeleng, “Aku tidak bercanda, Yoshi. Aku serius. Ayahmu
sangat merindukanmu. Sangat, Yoshi.. Setiap hari dia duduk di teras
rumah, menunggumu kalau-kalau kamu datang ke rumah dengan wajah murung.
Setiap hari, Yoshi.. Setiap hari..”
Shena menekan beberapa kata yang membuat hatiku memberontak. Menolak.
“Untuk apa dia melakukan hal seperti itu? Seharusnya, dia tahu bahwa aku
tak akan pulang ke rumah.”
Jari-jari Shena menggenggam erat pegangan cangkir teh yang sedari tadi
belum juga ia minum. Kepalanya menunduk dalam. Dia menggigit bibirnya
sendiri. Tak beberapa lama kemudian, dia terisak kecil. “Tentu saja dia
melakukan itu! Karena.. Karena kamu adalah ‘sesuatu’ yang harus dia
lindungi, ‘sesuatu’ yang harus dia jaga, ‘sesuatu’ yang sangat ia
cintai.”
Kedua mataku membelalak kaget. Tertegun. Rahangku mengeras, tak tahu harus berkata apa lagi.
“Pulanglah.. Ayahmu masih menuunggumu sampai sekarang ini. Detik ini.
Dia pasti akan sangat senang kalau kamu datang ke rumah. Sekali saja
untuk Natal ini.” Shena melanjutkan perkataannya lagi. Kali ini, aku
bisa melihat air mata membasahi kedua pipinya. Aku menarik napas
panjang. Mengapa Shena ingin sekali aku pulang ke rumah?
Aku memijit dahiku dengan jari telunjuk dan ibu jari. “Baiklah, aku akan pulang.” Putusku pada akhirnya dengan terpaksa.
Shena berhenti menangis. Dia menatapku lekat-lekat. “Benarkah?”
Aku mengangguk malas. Dia tersenyum tipis dengan air mata yang masih basah. “Arigatou gonzaimasu, Takayoshi-kun..”
Aku memaksakan diriku untuk tersenyum. Kemudian, Shena bangkit berdiri
dan berpamitan padaku. “Sudah jam 12 siang. Aku harus pergi ke bandara
sekarang. Terima kasih sekali lagi kamu sudah mau mendengarkanku.”
“E-eh, perlu aku antar?” kataku menawarkan diri.
Shena menggeleng, “Tidak. Terima kasih. Sampai jumpa, Takayoshi-kun. Aku menunggumu di Jepang.”
Kemudian, aku melihat tubuh mungilnya pergi melewatiku dan menghentikan taksi di depan. Memberikanku lambaian tangan lalu pergi.
Sementara aku. Aku tidak langsung beranjak dari tempat duduk. Sejenak,
aku mencerna semua perkataan Shena. Ternyata, penyakit kesotoyan-nya itu
belum hilang sejak dulu. Dari kecil, ia memang selalu memberitahukanku
tentang hal-hal baik yang ayah pikirkan tentangku. Namun, aku selalu
menyangkalnya dan tertawa kecil. It’s just in your imagination, my best
friend. Just only in your imagination.
Bagaimana bisa aku mempercayainya jika setiap aku pulang ke rumah,
kesunyianlah yang pertama kali menyambutku. Tidak ada kata-kata sambutan
yang manis seperti yang biasanya orangtua katakan pada anaknya setiap
pulang ke rumah. Aku selalu menerima penghargaan tanpa ucapan selamat
atau apapun dari ayah. Ayah sibuk dengan dunianya sendiri. Hingga
akhirnya, aku merasa tidak dihargai lagi olehnya bahkan aku sempat
meragukan statusku sebagai anak kandungnya. Tahun demi tahun kucoba
untuk bertahan. Melalui semua itu bersama ayah. Akan tetapi, beliau tak
kunjung berubah. Malah, aku semakin merasa kesepian.
Hingga akhirnya, pada kelas 2 SMA, aku memutuskan untuk mencari kerja
sambilan. Menabung uang supaya bisa kujadikan biaya hidup ketika aku
pergi dari rumah ayah nanti dan mewujudkan apa yang aku cita-citakan.
Sampai akhhirnya, aku menemukannya.. di sini.. di kota Paris.
Setelahnya, aku tak pernah pulang dan memang aku tak pernah berencana
untuk pulang ke rumah. Aku benci dia…
***
Aku tak percaya. Aku benar-benar melakukan ini. Hal yang dulunya tak pernah sedikit pun terbesit di benakku.
25 Desember. Aku kembali ke Jepang…
Keluar dari bandara dan melihat keadaan kota Tokyo. Sungguh, 7 tahun aku
di Paris, kota ini telah melakukan banyak perubahan. Membuatku yang
selama 18 tahun telah dibesarkan di Jepang ini merasa asing di tanah
kelahirannya sendiri. Kuhirup udara dalam-dalam. Ah.. Bau ini.. Bau yang
sudah lama tak kuhirup.
Akan tetapi, tujuanku ke sini bukan untuk memperhatikan antara persamaan
dan perbedaannya keadaan Jepang yang dulu dengan yang sekarang. Aku
kembali untuk Shena. Ya, untuk Shena bukan untuk ayah. Aku berdiri
mematung di pinggir jalan raya, menunggu taksi kosong yang bisa
kutumpangi. Sampai akhirnya, aku menemui seorang nenek sedang berjalan
menghampiriku. Memakai kimono yang warnanya sudah memudar, beliau
tersenyum menyapaku.
“Anata wa machigainaku Takayoshi-kun. Hisashiburi.” Sapanya begitu kami
sudah berdekatan. Beliau menunduk dan aku pun mau tidak mau ikut
menunduk memberinya hormat. Ah, sudah lama aku tak melakukan norma
kesopanan ala Jepang seperti ini.
“Anata dare?” tanyaku bingung dengan alis yang mengkerut. Untung saja, 7 tahun di Paris tidak membuatku lupa dengan bahasa Ibu.
“Hahaha.. Doyara, anata wa mada Nihon no moto o hanasu koto ga dekiru?
Watashi no namae, Furuno Fuko. Watashi wa anata no chichi, Furuno
Yoshino no hahadesu.”
***
Aku turun dari taksi bersama dengan nenekku, Furuno Fuko. Aku tak
mengerti kenapa beliau membawaku kesini dan bukan langsung ke rumah.
Mengekori nenek dengan langkah yang loyo. Tak bersemangat. Kami sekarang
berada di Jepang bagian utara. Udara sangat dingin. Musim salju. Aku
berjalan sembari melihat lingkungan di sekitarku. Tunggu dulu! Aku
merasa familiar dengan ini. Tapi, apa pernah dulu aku kesini?
Nenek menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Tatapannya memandang ke
arah padang bunga yang telah diselimuti oleh salju di samping kami.
“Sayang bunganya tertutup salju. Padahal, bunga-bunga itu sangat indah.
Kamu juga sewaktu kecil senang bermain disini loh…”
Aku tersentak. Itu artinya aku memang pernah kesini. Tapi, kapan?
Sementara aku masih bertanya-tanya, nenek mengajakku duduk di sebuah
pondok kecil, di tepi padang bunga. Mau tak mau aku mengikutinya.
Sejenak nenek tersenyum, masih dengan kedua mata yang memandang padang
bunga itu. “Pertama kali kamu kesini ketika musim panas. Ingat?”
Tiba-tiba, sebersit bayangan pun muncul di dalam otakku. Aku seperti
melihat padang bunga itu sewaktu musim panas, indah dengan bunganya yang
berayun-ayun tertiup angin, disana aku tertawa lepas. Sangat bahagia.
Berlari kesana dan kemari tanpa menghiraukan rumput panjangnya yang bisa
saja menyembunyikan hewan reptil mengerikan. Entahlah… Aku tak tahu
kenapa aku bisa berani seperti itu. Mengingatnya aku jadi tersenyum
sendiri.
“Tepatnya, setelah ibumu meninggal.” Lanjut Nenek. Membuat senyumanku
memudar begitu saja. “Tapi, nenek salut sama kamu. Kamu masih ceria
seperti biasa, tegar. Buktinya kamu masih bisa bermain disini dengan
tertawa lepas.” Puji nenek dengan menyunggingkan senyum dan menepuk
pundakku sesaat.
Benar juga. Pada saat ibu meninggal, aku hanya menangis pada hari itu.
Namun, setelahnya, aku kembali ceria, seperti tidak terjadi apa-apa.
“Takayoshi-san…” panggil nenek.
“Ya?”
Nenek menghela napas sejenak, “Apakah kamu pikir ayahmu itu buruk?”
Mengingat semua yang telah ayah lakukan untukku. Mengacuhkanku, selalu
sibuk dengan dunianya sendiri tentu saja tanpa berpikir panjang aku
menjawabnya, “Ya..”
Lagi, nenek menghela napasnya. Kali ini lebih panjang. “Setelah kematian
ibumu, ayahmu menjadi putus asa karena kehilangan salah satu orang yang
paling dia cintai. Akan tetapi, dia tidak bisa terus putus asa sebab
dia tahu bahwa ada satu orang lagi yang paling dia cintai masih bersama
dengannya, membutuhkan kasih sayang orangtua, dan membutuhkan bimbingan
untuk bisa menjadi pria sejati. Orang itu adalah… kamu.”
Aku tersentak kaget dengan kedua mata yang membulat lebar. Aku ingin
mengelak perkataan nenek namun rasanya rahangku menjadi kaku, sulit
untuk digerakkan. Entah kenapa, hatiku rasanya seperti mengatakan suatu
pembenaran.
“Pada hari itu, ayahmu berjanji pada nenek akan membuatmu menjadi pria
yang kuat, yang ceria juga sehat dan supaya kamu bisa meraih semua
cita-citamu. Dan, sejak itulah, ayahmu berjuang paling keras seumur
hidupnya. Dia keluar dari pekerjaannya yang bergaji besar untuk mencari
pekerjaan lain yang memiliki banyak waktu luang. Agar dia bisa
menjagamu, menemanimu. Dia selalu membelikanmu mainan dan makanan dengan
uangnya yang sedikit dan menabung sisa uang yang dia miliki untuk
pendidikanmu. Sedangkan ayahmu? Dia hanya makan setelah kamu makan
sampai kenyang.” Cerita nenek.
Aku menundukkan kepala dalam-dalam. Kenangan-kenangan masa kecilku dulu
bersama ayah seperti berputar kembali. Mainan, jajan, cinta,
kebahagiaan, tawa.. kenapa aku bisa melupakan semua itu?
“Dia paling suka natal. Karena hari Natal adalah hari dimana Yoshino
bisa bersama denganmu seharian. Mengajakmu berjalan-jalan, piknik…
Yoshino senang bisa membuatmu bahagia. Namun, lambat laun kondisi
seperti itu juga membuat Yoshino sangat kelelahan sehingga Yoshino lari
ke alkohol. Hingga akhirnya, ketika kau bertumbuh dewasa, kabarnya di
antara kau dan Yoshino tercipta sebuah jarak. Kalian tak lagi bisa
bersama terus-menerus seperti dulu. Kau terlihat enggan berbicara lagi
dengan Yoshino sehingga Yoshino pun memilih untuk diam karena takut
mengganggumu. Meskipun begitu, dia tetap memperhatikan keadaanmu.
Mencintaimu walau hanya dalam diam. Dia senang bisa melihatmu tumbuh
semakin dewasa, semakin tampan dan semakin pintar. Kau tahu? Dia selalu
membanggakanmu dengan para tetangga, pada nenek.”
Aku masih diam. Tak sanggup berkata-kata lagi sementara nenek masih
bercerita panjang lebar, otakku terus saja memutar bayangan ayah yang
menyanyangiku dengan tulus, mencintaiku dengan sepenuh hati. Jadi.. Jadi
itulah alasannya kenapa tetanggaku bisa tahu prestasiku, memberiku
ucapan selamat dan pujian padahal aku tak pernah menceritakannya pada
mereka. Karena… Karena ayah. Karena ayah yang menceritakannya pada
mereka. Dengan sorot mata yang penuh dengan kebanggaan, kebahagiaan.
Aku.. Aku telah salah menilainya.
“Sampai akhirnya, ketika kau pergi meninggalkan rumah. Hari-hari Yoshino
dipenuhi dengan kesedihan, rasa kesepian, kehilangan. Dia menunggumu…
Dia menunggu berita tentang kesuksesanmu. Dia percaya kamu akan pulang.”
Air mata yang sedari tadi sudah mengalir menjadi bertambah deras. Aku
menjambak rambutku kuat-kuat. Cukup! Cukup… Semakin banyak
kenangan-kenangan hitam putih yang muncul dalam pikiranku, semakin
terasa menyakitkan. Menyesakkan.
Sekarang, tanpa diberi tahu, aku sudah tahu sendiri jawabannya atas
pertanyaanku yang tadi. Mengenai kenapa aku berani berlarian di tengah
rumput yang tinggi tanpa takut ada hewan yang bisa melukaiku atau kenapa
aku begitu kuat menerima kepergian ibu.
Itu semua karena aku masih memiliki ayah. Ayah yang tidak pernah
membiarkanku terluka. Ayah yang selalu berusaha membuatku kuat, tegar
dan bisa kembali ceria seperti sedia kala walaupun ayah sendiri sedang
putus asa, sedih, kecewa, lelah, namun dia tak pernah membiarkanku
melihat itu semua darinya. Tak akan pernah…
“Dan, sekarang, apakah menurutmu Yoshino adalah ayah yang buruk?”
Kali ini, aku tidak punya alasan lain. Jawaban lain selain dengan
menggelengkan kepala. Tidak.. Ayah terlalu baik. Aku telah menjadi anak
yang sangat buruk untuknya.
Tak beberapa lama kemudian, nenek pun ikut terisak. Beliau menepuk
pundakku dan lalu berkata, “Takayoshi-san, terima kasih.. Terima kasih..
Setidaknya, kau telah membuat ayahmu bahagia mendengarnya.”
DHEG!
Ayah? Jadi, ayah ada disini? Dimana dia sekarang?
“Takayoshi-san..” panggil nenek sekali lagi.
“Apa?”
“Ayahmu.. sudah meninggal sebulan yang lalu.”
***
Aku bangkit berdiri di depan dupa ayah sebagai penghormatanku kepada
ayah. Disini, di ruangan yang sudah aku dan nenek dekorasi menjadi
ruangan penuh nuansa natal Ada rasa penyesalan teramat dalam juga
kesedihan yang tak kalah mendera. Tepat di hari Natal ini, aku mengingat
kembali akan semua yang telah ayah lakukan untukku. Semuanya..
Kalau boleh, aku ingin menangis keras. Namun… Aku tak ingin membuat
ayahku bersedih. Jika sewaktu ibu pergi ayah tak mau melihatku menangis
apalagi sekarang? Aku berusaha sekuat mungkin agar air mata itu tak
terjatuh.
“Merry Christmas, Ayah..” ujarku lirih.
Selesai berdoa, nenek berdiri dan melemparkan tatapannya ke arahku
seraya berkata, “Ayo, Takayoshi. Ikuti nenek sebentar. Nenek ingin
menunjukkan sesuatu padamu.”
Tanpa berbasa-basi lagi, aku menganggukkan kepala dan membuntutinya.
Ternyata nenek ingin membawaku ke kamar ayah. Dibukanya pintu lemari
ayah perlahan-lahan sampai terlihat beberapa tumpukan kado disana. Aku
membelalak kaget. Untuk siapa semua itu?
“Takayoshi, selamat hari natal. Ini semua hadiah untukmu dari Yoshino
yang telah ia kumpulkan selama 7 tahun. Setiap hari natal, ia
membuatkannya untukmu.”
Kemudian, nenek meninggalkanku sendirian di kamar ayah. Kedua mataku
memandang tumpukan kado itu. Di setiap kado itu terdapat greeting card
bertuliskan, “Merry Christmas, Yoshino.”
Perlahan-lahan, aku membuka semua kado tersebut dan terkejut ketika tahu
bahwa isinya adalah barang-barang yang pernah kuminta dulu pada ayah
namun belum bisa ia turuti pada saat itu. Tak kusangka, ternyata, ayah
masih mengingatnya dan ia mewujudkannya sekarang dengan gajinya yang
sedikit. Semua kado itu dibungkus dengan sangat rapi menunjukkan
kesungguhan dan ketulusan hati ayah pada saat memberikan hadiah itu
untukku.
Ayah… Aku.. Aku ijin menangis. Sebentar saja.. Untuk terakhir kali.
Tetes demi tetes air mata yang tadi sudah mengering menjadi basah kembali. Semalaman itu aku menangis. Menangis di kamar ayah.
Ayah… Beristirahatlah dengan tenang. Dengan bahagia. Sudah cukup kau
merawat anak kurang ajar seperti aku ini. Sudah cukup, Ayah.. Sudah
cukup..
***
“Maafkan ayah, ya… Ayah sering meninggalkanmu sendirian di rumah. Kau pasti kesepian. Maafkan ayah ya…”
Tubuh mungil anak itu hanya diam tak bergeming. Muka imutnya dia hadapkan, menatap wajah ayahnya yang menunduk.
“Ayah punya jajanan. Nanti, kalau lapar dimakan aja. Tapi jangan banyak-banyak. Nanti sakit perut.”
Dia masih tidak bergeming. Diam. Menatap ayahnya dalam-dalam.
“Ayah janji. Ayah akan pulang secepatnya. Nanti ayah akan masak buat makan malam nanti. Kita makan bersama-sama ya… Oke?”
Beliau pun mengulurkan tangannya, mengusap rambut anak itu dan
meninggalkan anak itu di rumah sendirian. Dia tidak akan pergi
lama-lama. Karena dia tahu ada seseorang yang paling berharga sedang
menunggunya di rumah. Dia tidak akan membiarkan seseorang itu sendirian.
Kesepian..
Jangan sedih. Ayah pergi sebentar. Nanti, kita akan bersama-sama lagi.
No comments:
Post a Comment